Kita Berjuang Bersama, Mengapa Hanya AKU yang GAGAL?
Pintu Kereta Rel Listrik (KRL) terbuka menampakkan para penumpang yang berdiri. Tak ada pilihan, aku langsung menerobos masuk dan ikut berdesakan. Kutatap pegangan di langit-langit kereta yang tak nyaman untuk tubuhku yang pendek, maka kuputuskan berdiri tanpa pegangan dan sandaran. Perlahan kulepas ransel berat di punggung dan kuletakkan di lantai kereta. Peluit panjang KRL berbunyi diikuti kereta yang mulai bergerak dari Stasiun Manggarai. Pandanganku berputar mengamati wajah-wajah lelah penumpang. Tak ada percakapan. Bunyi kereta, pengumuman petugas KRL dan angin malam yang dingin menambah kesyahduan malam itu. Ini Stasiun Tabah Abang, bukan Manggarai Kereta akan berhenti di stasiun Cikini dan tubuhku ikut terhuyung ke depan. Sebelum terjatuh, secepat kilat aku berpegangan pada tas seseorang di depanku. Seseorang yang menjadi teman seperjalanan beberapa hari ini. Berjuang bersama untuk mendapatkan impian kami. Kuhirup napas dalam-dalam dan bayangan berbagai perjuanga...